Oleh: Achmad Rifa’i RC

  1. A.     Pengantar

Landasan pendidikan merupakan konvergensi dari beberapa disiplin ilmu yang diterapkan dalam mengkaji pendidikan. Diagram berikut menggambarkan konsep struktur landasan pendidikan dan interelasi beberapa komponen landasan keilmuan. Masing-masing lingkaran mencerminkan disiplin atau bidang kajian tertentu. Bagian bayang-bayang dari lingkaran yang berinterseksi menunjukkan beberapa kombinasi dari beberapa  disiplin ilmu. Oleh karena itu, misalnya, akan muncul psikologi filsafat, psikologi sosial, antropologi komparatif, dan sebagainya. Bagian lingkaran yang diarsir dalam bentuk kotak menunjukkan keterkaitan disiplin ilmu dengan pendidikan, misalnya filsafat pendidikan, psikologi pendidikan, sosiologi pendidikan, antropologi pendidikan, dan sebagainya.

Gambar. Model Struktural Landasan Pendidikan

Bidang yang gelap menunjukkan penerapan bidang kajian interdidipliner dalam pendidikan. Pendekatan sejarah terhadap pendidikan, misalnya, dapat memasukkan filsafat pendidikan dan studi komparatif dalam menganalisis sistem pendidikan. Pendekatan komparatif dapat menggunakan konsep dan prosedur antropologi. Penelitian psikologi tentang fenomena pendidikan dapat memanfaatkan sosiologi. Filsafat pendidikan dapat menggunakan logika, konsep, atau asumsi psikologi. Oleh karena itu, hubungan dari beberapa pendekatan yang berorientasi pada disiplin ilmu dalam mengkaji pendidikan menjadi sangat kompleks.

 

 

  1. B.     Landasan Filsafat

Sejak berabad-abad lamanya para filsuf telah mengkaji pendidikan melalui sudut pandang filsafat, seperti Plato, Russlell, dan Maritain. Filsuf kelompok ini merumuskan teori umum tentang hakekat manusia, tujuan pendidikan, peranan pendidikan dalam membantu manusia dalam merealisasikan potensinya. Filsuf kelompok kedua memandang filsafat dan pendidikan secara kontinum. Misalnya, John Dewey menyatakan bahwa filsafat merupakan teori umum tentang pendidikan, dan menjadikan filsafat pendidikan sebagai disiplin ilmu. Dewey menggali  pemikiran filosofis dalam merancang kurikulum, metode pembelajaran, penetapan tujuan pendidikan, dan perumusan kebijakan pendidikan. Kelompok ketiga adalah filsuf yang menggali ca-cara mengkaji pendidikan, dan penggunaan metode penelitian.

Banyak literatur yang menjelaskan pertanyaan tentang apakah filsafat pendidikan itu? Dewasa ini, terjadi polarisasi antara pandangan integralistik dan separatis. Pandangan integralistik menyatakan bahwa filsafat pendidikan merupakan sub bagian dari filsafat. Para filsuf yang berpandangan integralistik menyatakan bahwa pengkajian filsafat pendidikan terletak pada konsep filsafat umum. Oleh karena itu filsafat pendidikan sama dengan filsafat ilmu pengetahuan, filsafat sejarah, filsafat seni, dan sebagainya. Sementara itu Berbeda dengan pandangan ini adalah pandangan separatis yang para filsuf separatis menyatakan bahwa filsafat pendidikan telah memperoleh disiplin otonom yang memiliki kedudukan sama dengan disiplin psikologi. Dinyatakan pula bahwa filsafat pendidikan telah memiliki subjek kajian, yakni pendidikan, yang menjadi bidang kajian penelitian dan berbagai metodologi penelitian.

Strategi filsafat yang berhubungan dengan filsafat pendidikan adalah pembelajaran. Filsafat melakukan analisis kritis tentang pendidikan, sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles, Kant, Rousseau.  Kemudian Filsafat juga menjelaskan secara eksplisit mengenai masalah persekolahan. Dinyatakan pula filsafat pendidikan mendasarkan diri pada struktur filsafat yang lebih besar. Oleh karena itu filsatat pendidikan tidak dapat dilepaskan dari filsafat Aristoteles, Kant, atau Plato.

Ada pendekatan dalam mengklasifikasi pemikiran filsafat kedalam kelompok tertentu. Nama yang diambil dapat bervariasi, dan yang paling umum yaitu Realisme, Idealisme, Pragmatisme, Eksistensialisme, dan Rekonstruksionisme. Masing-masing sistem mengkaji implikasi pendidikan. Filsafat pendidikan ini memberikan  kerangka acuan melalui pandangan mereka terhadap proses pendidikan. Masing-masing menampilkan alternatif pemecahan masalah. Masing-masing pemecahan masalah menjadi bagian dari kerangka kerja pemikiran pendidikan yang lebih luas yang selanjutnya menjadi bagian dari sistem filsafat. Oleh karena itu, melalui pengkajian kerangka kerja tersebut, guru dapat membangun filsafatnya melalui program pendidikan yang sesuai dengan pandangannya sendiri, dan dapat membuat keputusan secara cerdas.

Filsafat pendidikan menekankan proses pemikiran filsafati. Pertanyaan filsafat seperti: metafisika, epistemologi, aestetika, aksiologi, logika, membidik konsep dan isi yang lebih luas dengan pandangan yang menampilkan asumsi filsafat yang secara implisit dalam konsep seperti pengajaran, pelatihan, belajar, kurikulum, tujuan, disiplin, dan sebagainya. Tugas filsafat adalah menjelaskan pemikiran tentang praktik pendidikan. Misalnya, landasan psikologis apakah yang mendukung kurikulum terpusat pada peserta didik atau metode diskaveri dalam pembelajaran? Adakah dimensi metafisika terhadap pertanyaan tentang bagaimana mengendalikan perilaku antisosial peserta didik? Gagasan apakah yang tersirat dalam praktik administrasi di sekolah? Pertanyaan tesebut menjadi bidang kajian filsafat.

  1. C.      Landasan Historik

Bidang landasan historik berupaya menjelaskan sejarah dan perspektif judgement dalam pendidikan di sutau wilayah atau negara. Karena itu, sejarah mengkaji masa lalu yang bersifat dinamis. Sejarawan ilmu murni yang tertarik dalam mengkaji pendidikan memperhatikan studi rinci tentang pendidikan dalam periode tertentu, geografis tertentu, dan topik tertentu. Biasanya sejarawan ilmu murni dalam mengkaji pendidikan mendasarkan diri pada sumber informasi utama dan mencari kelanjutan peristiwa sejarah. Sejarawan pendidikan lebih tertarik pada penerapan prinsip-prinsip penelitian sejarah terhadap pendidikan. Sejarawan pendidikan cenderung meneliti perkembangan pendidikan yang lebih luas, kecenderungan kultural, pemikiran sosial, dan praktik institusional sebagaimana dalam teori dan praktik pendidikan modern. Pendekatan yang digunakan  oleh sejarawan ilmu murni dan sejarawan pendiikan adalah bersifat interdisipliner, menarik prinsip-prinsip keilmuan dari disiplin sosiologi, ekonomi, psikologi, dan antropologi dalam mengkaji pendidikan.

Ketika melacak dari awal permulaan praktik pendidikan, sejawan mulai mengkaji pendidikan dari jaman batu, Mesir, atau masyarakat Babylonia, Yunani, dan Roma. Diantara pertanyaan yang diajukan dalam mengkaji sejarah pendidikan adalah: apakah lembaga pendidikan telah melayani berbagai macam kebudayaan yang ada di masyarakat? Kapan dan mengapa muncul sekolah formal? Fungsi-fungsi apakah yang dilakukan oleh sekolah? Teori apakah yang mendukung praktik pendidikan pada waktu tertentu? Seberapa berhasil guru dalam menjalankan tugasnya? Perhatian lainnya adalah melacak pendidikan dalam peradaban barat dari munculnya jaman kristiani, periode pertengahan, Renaisan, Reformasi, tumbuhnya ilmu pengetahuan, zaman pencerahan, dan seseterusnya. Kontribusi para pendidik dari zaman Sokrates sampai dengan Froebel, dan sebagainya.

Sejarah dapat digunakan sebagai sarana analisis kontroversi pendidikan kontemporer. Berpikir reflektif karya Dewey yang menyatakan bahwa penelitian sejarah dikendalikan oleh kelompok dominan dan konsep kebudayaan dimana kebudayaan itu dipraktikkan, karya itu didasarkan pada tafsir subjektif atas analisis data pada saat itu. Dalam menganalisis sejarah, Dewey menekankan pada kesinambungan tematik dan bukan pada kronologi historik.Strategi analisis yang digunakan adalah terpusat pada masalah. Misalnya, peserta didik sekarang yang tidak terjebak ideologi di kampus perguruan tinggi dengan melihat apa yang terjadi di sekolah jaman Yunani Kuno, akademi di Inggris abad ke 17, atau evolusi kekuasaan mahasiswa di universitas jaman pertengahan. Perbedaan antara pendidikan Spartan dan Athena juga relevan untuk digunakan dalam menyelesaikan pertanyaan tentang kemerdekaan sipil, sensor terhadap sekolah, atau ideologi pendidikan dewasa ini. Pengetahuan tentang persekolahan pada jaman perang sipil dapat digunakan untuk memahami tentang fenomena sekolah yang dewasa ini menolak tekanan kelompok minoritas.

Apapun fokus deskripsi narasi sekolah dalam periode sejarah tertentu atau pada masan lalu yang mampu meningkatkan perspektif terhadap isu-isu pendidikan kontemporer, sejarah pendidikan akan memiliki banyak kontribusi terhadap pemahaman tentang mengapa dan bagaimana pendidikan modern berfungsi seperti sekarang ini.

  1. D.     Landasan Studi Komparatif

Tidak seperti bidang kajian lain, studi komparatif pendidikant tidak berasal dari bidang substantif seperti psikologi, sosiologi, atau antropologi, melainkan dari metodologi, yakni strategi penelitian. Studi komparatif berupaya menelaah bentuk-bentuk dan praktik lembaga pendidikan yang dapat ditransformasikan dari satu kebudayaan kepada kebudayaan lain. Dalam pemikiran ini, pendidikan komparatif merupakan jenis penelitian untuk memperoleh gagasan dari negara lain yang dapat diterapkan di negaranya sendiri. Kajian ini mendeskripsikan dasar-dasari legalistik terhadap penyelenggaraan pendidikan, administratif pendidikan, tipe lembaga dan kurikulum yang diterapkan, dan struktur kendali sosial. Melalui studi komparatif ini kemungkinnan negara dapat belajar dari dan memperoleh keuntungan melalui pengalaman dari negara lain.

Para sarjana pendidikan di bidang ini  telah mulai mengembangkan motode khusus untuk membandingkan data dalam latar lintas budaya. Para sarjana ini menghasilkan berbagai pengetahuan mengenai dampak karakter nasional terhadap sistem sekolah, faktor-faktor yang mempengaruhi inovasi pendidikan, tingkat demokrasi pendidikan di negara berkembang, manajemen dan pembuatan keputusan pendidikan, dan informasi mengenai sumberdaya manusia yang berkaitan dengan sekolah formal. Melalui pengkajian praktik pendidikan dari negara lain, negara berkembang mampu menciptakan sistem sekolahan yang sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Sebaliknya, negara maju membantu mengembangkan sekolah di negara berkembang. Oleh karena itu melalui studi komparatif akan daat mengurangi etnosentrisisme dan parokialisme kultural yang telah melanda sebagian sistem pendidikan di berbagai negara dan daerah.

  1. E.      Landasan Antropologi

Homo sapiens memerlukan waktu perlindungan lama dari orang dewasa agar mampu berfungsi secara penuh sebagai anggota kelompok. Manusia mewarisi kemampuan belajar sehingga memiliki kemampuan untuk berperilaku yang sesuai dengan kehidupan masyarakat. Walaupun begitu, perilaku hanya dapat dijelaskan dalam bentuk pola-pola berpikir dan bertindak yang ditentukan secara kultural dan diperoleh secara sosial. Oleh karena itu, dari sudut pandang antropologi, konsep kebudayaan adalah sangat penting untuk memahami perilaku manusia. Kebudayaan merupakan totalitas kebiasaan dan nilai, cara berperilaku, pranata sosial, teknologi, cara berekspresi dan berkomunikasi, akumulasi pengetahuan dan keyakinan. Pendeknya, agregasi total yang membedakan sekumpulan organisme dari masyarakat manusia.

Kebudayaan merupakan faktor penting dalam merangsang, membentuk dan mengendalikan perilaku manusia. Dalam pemikiran tertentu, kebudayaan merupakan sarana pembentuk manusia seutuhnya. Karena kebudayaan itu diperoleh, maka ia harus ditransformasikan kepada generasi berikutnya. Karena itu, pendidikan dalam pemikiran yang luas, merupakan proses sosialisasi, yakni suatu sarana dimana individu menjadi anggota masyarakat. Secara antropologis, proses belajar merupakan proses kebudayaan yang dikenal sebagai enkulturasi. Belajar dapat terjadi tanpa ada sekolah: kebiasaan, keyakinnan, pengetahuan, dan sejenisnya dapat diajarkan melalui anggota atau kelompok sebaya dalam latar kehidupan sehari-hari. Imitasi terhadap perilaku adalah proses belajar. Dalam masyarakat yang paling primitif pun, sikap, orientas, dan pemahaman karakteristik kebudayaan itu dipelajari tanpa melalui sekolah formal. Dalam masyarakat yang lebih kompleks, sekolah—dipandang sebagai proses pembelajaran formal—dipandang sebagai bagian penting dari enkulturasi yang mempengaruhi kegiatan manusia.

Mengapa antropologi dapat menjelaskan masalah pendidikan? Satu isu yang sangat menarik adalah hubungan antara sekolah dengan agensi enkulturasi yang lain—seperti keluarga, kelompok sebaya, tempat peribadatan, dan media massa—dimana masing-masing memiliki nilai dan tujuan sendiri-sendiri. Bagaimana agensi lain itu menolak sekolah? Bagaimana konflik internal dari sebuah kebudayaan mempengaruhi kegiatan pembelajaran? Pertanyaan lain yang terkait adalah bagaimana sekolah memprakarsai dan juga merefleksikan perubahan dalam kebudayaan yang lebih luas? Sebagai lembaga sosial, sekolah menjadi lembaga yang sangat konservatif.

Pakar antropologi meneliti fenomena pendidikan berkaitan dengan identifikasi antagonisme antara nilai-nilai kebudayaan dengan proses pembelajaran formal. Karena perubahan terjadi secara berbeda di dalam sub-kebudayaan, seperti tata nilai, sikap, kebiasaan, pola-pola perilaku, maka sekolah dapat bertentangan sub-kebudayaan tersebut. Konsekuesinya, apabila sekolah tidak mampu beradaptasi dengan kebudayaan masyarakat, maka kontribusinya terhadap masyarakat akan sangat lemah. Antropologi memberikan wawasan untuk menganalisis konflik antara sekolah dengan lingkungan kebudayaan tersebut.

Kontribusi lain antropologi terhadap pendidikan adalah studi tentang metode pendidikan lintas budaya dengan membandingkan kebudayaan primitif dan modern. Pengalaman kebudayaan lain yang berkaitan dengan pendidikan menciptakan perbandingan sehingga guru dapat menilai sekolahnya secara lebih objektif. Diantara perhatian lain dari pakar antropologi adalah antropologi dapat melakukan upaya penetapan teori pendidikan sistematik dalam perspektif kebudayaan yang menjadi pedoman berkenaan dengan asumsi yang merefleksikan praksis pendidikan, dan asumsi yang dibawa oleh pakar antropologi dalam menganalisis pendidikan. Dampak dari kebudayaan terhadap kepribadian dan pembentukan karakter, tema yang sangat penting pada pendidikan, merupakan bidang penelitian antropologi pendidikan. Sangat terkait dengan disiplin sosial lainnya adalah bahwa antropologi menampilkan gagasan tentang berbagai gagasan pendidikan yang lebih luas.

  1. F.      Landasan Sosiologi

Tidak ada yang lebih membingungkan pada teorisi yang berupaya menggambarkan garis antara dan antar disiplin ilmu-ilmu sosial. Terutama ketika berupaya menspesifikasi bidang-bidang keunikan sosiologi yang diterapkan dalam pendidikan, yakni kejelasan batas-batas yang menggambarkan difinisi sosiologi. Ada penulis yang membedakan antara Educational Sociology sebagai penerapan prinsip-prinsip umum dan temuan sosiologi dalam administrasi dan/atau proses pendidikan, sebagai lawan dari Sociology of Education yakni analisis proses sosiologi terhadap lembaga pendidikan. Pandangan pertama berupaya menerapkan prinsip-prinsip sosiologi dalam pendidikan sebagai unit sosial yang terpisah, sementara itu pandangan kedua adalah suatu evolusi di luar sosiologi pendidikan dan menekankan studi dalam lembaga pendidikan. Hal ini membingungkan karena perbedaan tersebut mengklarifikasi lebih dari pemikiran mengenai landasan sosiologi pada pendidikan—banyak penulis menggunakan kedua istilah itu secara bergantian.

Pendidikan merupakan kegitan yang dilaksanakan di dalam, dan karena itu dipengaruhi oleh, lingkungan sosial dimana pendidikan itu dilaksanakan. Pendekatan sosiologi pada pendidikan merupakan uspaya mengorganisir pemikiran mengenai proses dan lembaga pendidikan yang diorganisir secara sistematis,  terutama, penekanan pada bentuk, lembaga, dan fungsi kelompok dalam hubungannya dengan sekolah.

Sosiologi pendidikan dapat menjadi sarana analisis dan penafsiran terhadap fenomena pendidikan. Pendekatan yang digunakan yaitu deskriptif dan interpretasi, namun umumnya para pakar sosiologi pendidikan menggunakan pendekatan interpretratifi. Wilayah kajian yang biasa dijadikan sebagai bidang penelitian yaitu misalnya interaksi sosial, sistem sosial dalam hubungannya dengan peranan guru, efek diferensiasi dari berbagai lingkungan belajar, prestasi pendidikan dalam hubungannya dengan klas sosial, teori permainan yang diterapkan pada pembuatan kurikulum, dan sebagainya. Materi tersebut juga menjadi topik eksperimen empirik. Praksis pendidikan seperti pengelompokan berdasarkan kemampuan, sistem ganda, pembelajaran tanpa kenaikan kelas, dan belajar terprogram memberikan banyak bahan kajian bagi pakar sosiologi yang tertarik untuk memanipulasi variabel-variabel yang dikenalikan.

  1. G.     Landasan Psikologi

Psikologi pendidikan biasanya dipandang sebagai cabang dari lapangan psikologi, yakni penerapan teknik dan prinsip-prinsip psikologi pada pendidikan. Fungsinya adalah mengembangkan pemahaman terhadap proses pendidikan secara teoritik dan fungsional—pemahaman ini paling efektif karena didasarkan pada temuan penelitian empirik. Para pakar psikologi menggantungkan diri pada sekumpulan pengetahuan yang sistematis, koheren, dan sistematis tentang mekanisme proses belajar mengajar. Proses ini pada hakekatnya adalah bersifat psikologis. Teknik yang efektif dalam proses belajar mengajar umumnya berasal dari psikologi.

Perhatian utama psikologi pendidikan yaitu berkaitan dengan: (a) jenis dan karakteristik peserta didik; (b) hakekat proses belajar; (c) strategi pembelajaran, dan (d) penetapan prinsip-prinsip ilmiah mengenai prosedur yang digunakan dalam pendidikan. Bidang-bidang kajian ini mampu menjelaskan proses dan hasil pendidikan. Informasi yang diperlukan yaitu berkenaan dengan struktur kepribadian, tahap-tahap perkembangan, dan karakteristik psikologis peserta didik yang mempengaruhi belajar. Di samping itu, psikologi pendidikan berupaya memahami cara-cara orang belajar, dinamika perubahan perilaku, variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja, proses berpikir, pembentukan konsep, dan sebagainya. Oleh karena itu psikologi pendidikan memvalidasi prosedur yang memastikan bahwa belajar telah terjadi.

Psikologi pendidikan membangun teori yang luas mengenai teknologi pendidikan. Kecenderungan baru itu mencakup teori-teori perkembangan kognitif, pemecahan masalah, pengukuran dan evaluasi, dan transmisi informasi. Dalam hal ini spesialisasi dalam psikologi pendidikan menjadi sangat penting. Misalnya, pakar statistika dan pengukuran psikologis bekerja sama untuk membangun konstruk, memvalidasi, dan mengases instrumen tes; pakar teori kepribadian dan konselor bekerjasama untuk menangani masalah belajar; pihak-pihak yang tertarik dengan teori belajar bekerjasama dengan para pakar kurikulum alam menyusun dan mengembangakn. Psikologi deferensial melaksanakan penelitian untuk mengukur perbedaan individu di bidang keterampilan psikomotorik, intelegensi, pembentukan kebiasaan, pembentukan bahasa, dan sebagainya. Psikoterapi pendidikan menjelaskan motivasi, kesehatan mental, dan belajar yang efektif. Jelasnya, keberagaman fenomena psikologi itu mendorong pentingnya para pakar psikologi membagi tugas dalam menerapkan penelitian psikologi pada pendidikan.

Sebagai ilmu terapan, psikologi pendidikan membantu memperluas bidang-bidang pemahaman bersama tentang pendidikan, dan kerjasama antara pakar psikologi dan guru. Kontrbusi psikologi sosial membantu menunjukkan bagaimana proses pendidikan berlangsung dalam lingkungan sosial. Pakar psikologi klinis memandang kesehatan mental menjadi faktor penting dalam proses belajar. Penekanan baru itu mencakup studi psikologis tentang kreativitas, kebutuhan prestasi dan afilisasi siswa, pengaruh kelompok sebaya, dan permainan peran. Masalah spesifik mengenai anak-anak kurang beruntung secara kultural, cacat mental, dan keterbatasan jasmani merupakan hal-hal yang kurang dapat diprediksikan dalam belajar, sehingga diperlukan dengan para pakar psikologi yang relevan.

  1. H.     Landasan Ekonomi

Analisis ekonomi diperlukan untuk mengkaji pendidikan dari sudut pandang implikasinya terhadap proses produksi dan distribusi sumberdaya. Namun demikian, hal ini tidak dapat dilakukan di berbagai lingkungan masyarakat, dan perhatian analisis ekonomi dicurahkan pada proses pendidikan di masyarakat pada waktu tertentu. Misalnya, peranan pendidikan di negara-negara berkembang akan berbeda dengan di negara-negara maju dan masyarakat kapitalis, dimana struktur ekonomi dan pendidikan merefleksikan pengalaman yang lebih luas dalam menuju ekonomi industri. Apabila peran pendidikan hanya berfungsi sebagai sarana untuk mendukung status sosial dan ekonomi dalam menghadapi reformasi tatanan ekonomi, maka pendidikan juga harus diarahkan pada pembangunan manusia seutuhnya.

Agar pendidikan itu dapat berlangsung dan mencapai hasil yang selaras dengan pembangunan nasional, pendidikan harus tidak lagi dikelola secara spekulatif, namun harus benar-benar relevan dengan kebutuhan mayarakat. Pendidikan juga harus diintegrasikan dengan kehidupan, dalam arti kehidupan itu sendiri harus selalu berada dalam situasi pendidikan. Pandangan seperti ini mempersyaratkan adanya transformasi pembagian tugas di masyarakat (the social division of labour), dan pendidikan harus selalu dikaitkan dengan perencanaan pekerjaan, serta pengembangan kemampuan masyarakat untuk melakukan pengelolaan diri (self-management) dan belajar sepanjang hayat. Kontribusi lain landasan ekonomi terhadap pendidikan adalah berkenaan dengan analisis efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan pendidikan.