Singopadon

Alkisah pada jaman dulu ( penjajahan Belanda ) ± pada tahun 1660 di kota Kudus di perintah oleh seorang Bupati dari kerajaan Belanda. Pada waktu itu gunung Muria dan sekitarnya dilanda kerusahan yang menghebat. Perampokan, pembunuhan, peperangan-peperangan yang tak henti-hentinya, sehingga meresahkan penduduk. Karena hasil rampokan mereka makin lama makin menipis, maka tak ayal lagi jika kerusuhan menjalar ke kota Kudus. Akibatnya tentara kerajaan Belanda pun turun tangan dalam segi keamanannya. Namun karena para perusuh rupanya lebih lihai, lebih pemberani, disamping dibekali ilmu bela diri dan ilmu kesaktian yang tinggi dan tangguh dari pada tentara kerajaan Belanda, akhirnya penduduk tetap saja merasa resah dan dalam keraguan, sehingga tentara keamanan Belanda lumpuh total. Konon perusuh tersebut dikepalai oleh seorang jagoan/warok yang bernama Surowage. Dia kebal peluru maupun senjata tajam lainnya dan memiliki kesaktian yang tangguh. Kota Kudus tetap dilanda kerusuhan yang menghebat.

Pada suatu saat Bupati memanggil seorang prajurit kabupaten untuk menghadap. Prajurit itu bernama Sowijoyo (dalam sejarah cerita ini dia terkenal di panggil Pentul atau lengkapnya Sowijoyo Pentul), beliau ini sebagai prajurit sekaligus sebagai pendamping/penasehat bupati. Bupati berkata: “Pentul… kamu tahu bahwa kota Kudus dewasa ini dilanda kerusuhan, sehingga kepercayaan rakyat terhadap kewibawaan kita semakin luntur, bagaimana pendapatmu?”. Sowijoyo diam sejenak seraya menjawab: “ndoro tuan hamba mohon waktu 2 hari untuk berpikir”. “Baiklah” kata Bupati, “dan kuminta segera pertimbanganmu”. “Baik ndoro tuan”. Kemudian Sowijoyo bersemedi di rumahnya selama 2 hari, lalu menghadap lagi kepada Bupati. Kali ini Sowijoyo memberi jawaban yang positip, “ndoro tuan demi kewibawaan ndoro dan demi keamanan kota Kudus, kami sanggup dan akan berusaha demi rakyat untuk segera menumpas kerusuhan yang dipimpin oleh Surowage”. Bupati berkata: “Sowijoyo, jika ini benar–benar keputusanmu, saya merasa lega dan terima kasih atas keberanianmu dan saya berjanji kepadamu, jika engkau berhasil menangkap Surawage dan kawan–kawan hidup atau mati disertai bukti, maka kuhadiahkan kepadamu separo dari kota Kudus (seluas sigar semangka)”. “Sendiko gusti, namun hamba mohon waktu 40 hari untuk bertapa dulu”.

Syahdan, Sowijoyo menjalani tapa pendem ditanam di dalam tanah selam 40 hari, hanya kepala saja yang kelihatan dan hanya minum air putih. Selama menjalani tapa, mulai matahari terbit sampai terbenam selalu dipandangnya matahari, sehingga mata menjadi merah darah. Setelah 40 hari berakhir, lalu Sowijoyo bangun dari bertapa pendem dengan wajah lunglai, pucat pasi namun berwibawa. Setelah beberapa hari kekuatan pulih kembali, maka beliau menghadap kepada Bupati lagi, lalu berkata: “ndoro tuan, hamba siap dan mohon restu untuk berangkat menumpas perusuh”. Dengan diantar beberapa orang prajurit pengawal, Sowijoyo berangkat ke kaki gunung Muria tempat sarang Surowage. Terjadilah peperangan yang dahsyat antara Sowijoyo dan Surowage mereka beradu kesaktian, namun ini semua tak berarti bagi Sowijoyo. Dengan bekal kesaktiannya yang tangguh, Surowage dan kawan kawan tertangkap hidup-hidup dan dibawalah Surowage dan kawan-kawan menghadap Bupati di Kudus, akhirnya di hukum mati. Begitulah kota Kudus kembali menjadi aman dan damai.

Dengan berhasilnya pemulihan keamanan oleh Sowijoyo, maka berlangsunglah pesta upacara penyerahan hadiah yang telah dijanjikan oleh Bupati kepada Sowijoyo, yaitu separo dari kota Kudus, mulai dari batas kali Gelis ke barat, yang sampai saat ini dinamakan Kudus Kulon, sedangkan yang sebelah timur kali Gelis tetap di bawah kerajaan Belanda yang sampai kini dinamakan Kudus Wetan. Dan sebagai tanda penghormatan, Sowijoyo dinaikkan pangkatnya dari prajurit menjadi Adipati dengan gelar Pangeran dan bertahta di kampung Candi, Kudus Kulon dengan nama Pangeran Singopadon. Sampai hayatnya beliau disemayamkan di desa Candi (Singo Candi )

Demikianlah sekilas sejarah dari pokok asal-usul nama Pangeran Singopadon yang kami sadap dan kemudian kami susun dari nara sumber dari almarhumah Ibunda (1) Sukarmi Sumodihardjo putra keempat dari R Sutowijidjojo yang di desa Ngantenan/Barongan, meninggal pada tahun 1960 di Kudus. (2) Bude Siti Aminah Kartodirono putera pertama dari R Sutowidjojo yang bersemayam di desa Bareng Hadipolo, meninggal tahun 1957 di Bareng, yang di terima dari almarhum Mbah Sumodihardjo Klaling yang dibicarakan dengan Bude Aminah Kartodirono yang masih berjumpa belasan tahun yang telah lampau.

Surakarta ,21 April 1987

Penyusun

Darmoyono

Catatan

Makam P Singopadon terdapat dikampung /desa Candi Kudus Kulon dan sampai kini masih terawat baik

Sejarah ringkas ini kami susun hanya sekedar untuk di Ketahui oleh para putra wayah dari nenek moyang kita dan di pakai untuk landasan jalinan ikatan keluarga Kudus agar tidak putus silaturahmi keluarga kita. Amin.
Read more: http://asharcyber.blogspot.com/2012/01/sejarah-ikbsk.html#ixzz1qr5pBroA

2 Komentar (+add yours?)

  1. ashar
    Apr 05, 2012 @ 13:39:03

    thanks bro…
    dah dimasukkan alamat blog q…

    apakah situ juga dari keluarga singopadon?

    Balas

    • singopadon
      Apr 07, 2012 @ 21:10:14

      Sama-sama, tapi maaf aku belum bisa memberikan info. thanks mas bro..

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s